Senyum monalisa tak lagi mengembang dibibirnya yang merah. Sinar redup dimatanya menjawab dengan jelas apa yang sedang berkecamuk dipikirannya.
Kejadian semalam dan tadi pagi benar-benar membuatnya terpukul bahkan sangat terpukul melebihi saat mona kehilangan dompetnya yang berisi surat-surat penting.
Sungguh ini masalah yang begitu serius dia rasakan.
Sampai ia tiba ditempat kerjanya, seakan-akan tiada lagi semangat untuk bekerja, konsentrasinya sudah buyar entah kemana, handphone yang selalu dia tenteng kemanapun pergi, kini hanya tergeletak bagaikan tak bertuan disaku tasnya.
Masih teringat jelas dipikirannya kata-kata cukup pedas terasa di sms handphonenya dari seorang wanita yang jujur sangat dia hormati.
Namun tak henti-hentinya dia juga menyalahkan kecerobohan dan keisengannya yang kadang tidak sadar ia lakukan.
Kerinduan yang teramat dalam, bagi monalisa adalah sebuah siksaan yang amat menyakitkan yang berakibat munculah tindakan yang diluar perhitungannya.
"Maafkan aku kekasih hatiku, bila kamu merasa tak nyaman disana akibat ulahku."
Huhhhh.....helaan napas monalisa terasa begitu berat tertahan, terbayang apa yang terjadi disana, ditempat saat ia pernah bercengkrama, bercanda dan melepas rindu, ditempat yang bukan seharusnya ia tempati, itu milik dia.
"Apakah ini saatnya, aku harus mundur perlahan, meski berat dan akan sangat menyakitkan !"
Mungkin satu, dua, tiga hari, minggu, bulan, bahkan tahun akan menjadi hari yang berat bagi monalisa. Senyumnya takan lagi seindah senyum monalisa.